Injeksi Surfactant (Surface Active Agent)

Published by Priant Taruh on Juli 23, 2017

Surfactant didefinisikan sebagai molekul yang mencari tempat diantara dua cairan yang tak dapat bercampur dan mempunyai kemampuan untuk mengubah kondisi.

Injeksi surfactant diinjeksikan ke dalam reservoir bertujuan untuk menurunkan tegangan permukaan antara minyak dan air agar tekanan kapiler pada daerah penyempitan pori-pori dapat dikurangi, sehingga minyak sisa pada daerah yang dipengaruhi tekanan kapiler tersebut dapat didesak untuk kemudian terproduksi. Variabel-variabel yang mempengaruhi injeksi surfactant yaitu :

a.    Adsorbsi
b.    Konsentrasi slug surfactant
c.    Clay
d.    Salinitas air formasi

Kuantitas bahan surfactant adalah penentuan volume surfactant yang dibutuhkan dalam pendesakan dengan bahan surfactant, agar minyak sisa dapat didesak dan diproduksikan dengan cara menurunkan tegangan permukaan minyak-air. Penggunaan slug surfactant yang terlalu banyak, tidak ekonomis. Sedangkan bila terlalu sedikit mengakibatkan tidak semua permukaan minyak dilalui oleh slug tersebut.

Kualitas surfactant adalah efektivitas kerja surfactant untuk menurunkan tegangan permukaan antara minyak-air sehingga minyak sisa yang tertinggal dapat didesak dan diproduksikan. Bahan utama surfactant adalah petroleum sulfonate. Zat ini dihasilkan dari sulfonatisasi minyak mentah (distilasi minyak mentah). Rumus kimia sulfonate adalah R-SO3H dimana R adalah gugusan atom-atom karbon aromatik.

Sementara pelarut utama surfactant pada pendesakan ini adalah air dan minyak. Sulfonate merupakan hasil industri penyulingan suatu campuran zat-zat kimia yang disebut Petroleum Feedstock, dilarutkan dalam air atau minyak sehingga membentuk micele-micele yang merupakan microemulsion dalam air atau minyak.

Micele-micele berfungsi sebagai medium yang miscible terhadap minyak dan/atau air. Larutan yang menggunakan air atau minyak sebagai pelarutnya, tergantung pada bentuk larutan yang dikehendaki. Bentuk larutan itu antara lain aqueous solution, oil-external microemulsion dan water-external microemulsion. Pelarut utama dalam sistem aqueous solution dan water-external microemulsion adalah air, sedangkan pelarut utama dalam sistem oil-external emulsion adalah minyak.

Adapun mekanisme injeksinya yaitu larutan surfactant yang merupakan microemulsion diinjeksikan ke dalam reservoir. Surfactant mula-mula bersinggungan dengan permukaan gelembung-gelembung minyak melalui film air yang tipis. Film ini merupakan pembatas antara batuan reservoir dan gelembung-gelembung minyak.

Surfactant memulai peranannya sebagai zat aktif permukaan untuk menurunkan tegangan permukaan minyak-air. Molekul-molekul surfactant yang mempunyai rumus kimia RSO3H akan terurai dalam air menjadi ion-ion RSO3–  dan H+. Ion RSO3– akan bersinggungan dengan permukaan gelembung-gelembung minyak sehingga mempengaruhi ikatan antara molekul-molekul minyak dan juga mempengaruhi gaya adhesi antara gelembung-gelembung minyak dengan batuan reservoir, akibatnya ikatan antara gelembung-gelembung minyak akan semakin besar dan gaya adhesinya semakin kecil sehingga terbentuk oil bank untuk didesak dan diproduksikan.

Saya bukan master ataupun ahli. Hanya seorang mahasiswa yang ingin sharing pengetahuan mengenai Migas, Geothermal dan Pengetahuan Umum lainnya.

Share this

Subscribe Yuk !!!

Postingan Terkait

Previous
Next Post »

   Berkomentarlah dengan Baik dan Sopan.