Pengertian Pressure Build Up Testing

Published by Priant Taruh on Juli 26, 2017
Pressure Build-Up Testing adalah suatu teknik pengujian transien tekanan yang paling dikenal dan banyak dilakukan orang. Pada dasarnya, pengujian dilakukan pertama-tama dengan memproduksi sumur suatu selang waktu tertentu dengan laju aliran yang tetap, kemudian menutup sumur tersebut. Penutupan sumur ini menyebabkan naiknya tekanan yang dicatat sebagai fungsi waktu.


Dari data yang didapat, kemudian dapat ditentukan permeabilitas formasi, daerah pengurasan saat itu, adanya karakteristik kerusakan atau perbaikan formasi, batas reservoir bahkan keheterogenan suatu formasi.


Gambar 1. Idealized rate and pressure history for a Pressure Buildup Test
(Sumber : Handbook Transient Well Test Dr. Doddy Abdassa)


Gambar 2. Idealized rate and pressure history for a Pressure Buildup Test
(Sumber : Handbook Transient Well Test Dr. Doddy Abdassa)

Dasar analisa PBU ini diajukan oleh Horner, yang pada dasarnya adalah memplot tekanan terhadap suatu fungsi waktu. Tetapi sebelum membicarakan lebih lanjut, perlu kiranya kita mengetahui suatu prinsip yang mendasari analisa ini yaitu terkenal dengan prinsip superposisi (superposition principle).


Gambar 3. Production History of a well showing
Both rate and bottom hole flowing pressure as function of time
(Sumber : Handbook Transient Well Test Dr. Doddy Abdassa)

Secara matematis, teori yang mendasari prinsip ini menyatakan bahwa penjumlahan dari solusi-solusi individu suatu persamaan diferensial linier berorde dua adalah juga merupakan solusi dari persamaan tersebut. Untuk menentukan tekanan lubang sumur (Pwf) pada saat tn sewaktu laju tertentu qn, dapat dipakai prinsip superposisi dengan metode sebagai berikut :

q1 dianggap berproduksi selama tn
q2 dianggap berproduksi selama tn-t1
q3 dianggap berproduksi selama tn-t2
q4 dianggap berproduksi selama tn-t3
qn dianggap berproduksi selama tn-tn-1


PBU dapat dilakukan saat periode pengeboran maupun selama periode produksi. PBU yang dilakukan saat pengeboran biasanya dalam jangka waktu pendek, sehingga kurang teliti. Adapun asumsi-asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut :

a. Sumur ditutup tepat di depan perforasi
b. Tidak ada aliran masuk ke dalam sumur
c. Fluida di dalam reservoir mengalir menuju sekeliling sumur sampai tekanan di seluruh reservoir sama.

1. Ideal PBU Test

Asumsi-asumsi :
a. Sumur diproduksi dari infinite acting reservoir yang horizontal, ketebalan konstan, seluruh ketebalan diperforasi
b. Batuan homogen, isotropic
c. Fluida satu fasa, slightly compressible, dengan sifat-sifat konstan
d. Berlaku pendekatan pseudo producing time (Horner). Jika periode produksi yang telah berlangsung = tp, laju produksi konstan = q, dan waktu berjalan sesudah penutupan sumu r= Δt, dengan menggunakan prinsip superposisi, diperoleh persamaan :

Keterangan :
Pws    = Tekanan statik dasar sumur setelah ditutup, psi
Pi    = Tekanan awal reservoir, psi
h    = Tebal reservoir, ft

2. Actual PBU Test

Pada test sumur yang aktual, penutupan sumur dilakukan di X-mas tree, sehingga ada aliran masuk ke dalam lubang bor (wellbore storage effect). Kurva yang didapat dari plot Pws vs. {(tp + Δt) / Δt} tidak berupa garis lurus akibat :

a. Konsep radius of investigation
b. Adanya wellbore storage (afterflow)
c. Kerusakan formasi.

Berdasarkan konsep radius of investigation, kurva PBU dibagi menjadi 3 daerah (region) yaitu :
  • Early time region (ETR)
  • Middle time region (MTR
  • Late time region (LTR).
Dari analisa PBU ini kita juga bisa menentukan tekanan rata-rata reservoir, dan ada beberapa cara untuk menentukan harga tersebut yaitu :
  • Metode Matthews – Brons – Hazebroek (MBH)
  • Metode Miller – Dyes – Hutchinson (MDH)
  • Metode Dietz
  • Metode Ramey dan Cobb

Saya bukan master ataupun ahli. Hanya seorang mahasiswa yang ingin sharing pengetahuan mengenai Migas, Geothermal dan Pengetahuan Umum lainnya.

Share this

Subscribe Yuk !!!

Postingan Terkait

Previous
Next Post »

   Berkomentarlah dengan Baik dan Sopan.