Pengertian Mineral dan Sifat-Sifatnya

Published by Priant Taruh on September 28, 2017
Pengertian Mineral

Mineral adalah materi penyusun Bumi, yang merupakan unsur atau senyawa anorganik, terbentuk secara alami, mempunyai sifat dan komposisi kimia tertentu, mempunyai sifat fisik tertentu, mempunyai struktur dalam yang teratur dan berbentuk kristal.

Kristal adalah suatu bangun polyeder (bidang banyak) yang teratur dan dibatasi oleh bidang-bidang rata yang tertentu dan mempunyai sumbu-sumbu simetri tertentu.

Sifat Mineral

Terdapat dua cara untuk dapat mengenal suatu mineral, yang pertama adalah dengan cara mengenal sifat fisiknya. Yang termasuk dalam sifat fisik mineral adalah Warna, Cerat, Kilap, Bentuk Kristal, Belahan, Pecahan, Kekerasan, Berat Jenis, Tenacity, Diaphaneity, Special Properties.

Adapun cara yang kedua adalah melalui analisa kimiawi atau analisa difraksi sinar X, cara ini pada umumnya sangat mahal dan memakan waktu yang lama.

1. Sifat Fisik Mineral

a. Warna (color)

Warna mineral memang bukan merupakan penciri utama untuk dapat membedakan antara mineral yang satu dengan lainnya. Namun paling tidak ada warna-warna yang khas yang dapat digunakan untuk mengenali adanya unsur tertentu didalamnya. Sebagai contoh warna gelap dipunyai mineral, mengindikasikan terdapatnya unsur besi. Disisi lain mineral dengan warna terang, diindikasikan banyak mengandung aluminium. Warna mineral dibedakan menjadi dua, yaitu:

  • Idiokromatik, apabila warna mineral selalu tetap, umumnya dijumpai pada mineral-mineral yang tidak tembus cahaya (opaque) seperti galena, magnetit, dan pirit
  • Alokromatik, bila warna mineral tidak tetap, tergantung dari material pengotornya. Umumnya terdapat pada mineral-mineral yang tembus cahaya seperti kuarsa dan kalsit.



Walau demikian ada beberapa mineral yang mempunyai warna khas, seperti :
  • Putih :Gypsum (CaSO4.H2O), Milky Quartz 
  • Kuning : Belerang (S)
  • Emas : Pirit (FeS2), Kalkopirit (CuFeS2), Emas (Au)
  • Biru :  Azurit (2CuCO3Cu(OH)2), Beril 
  • Merah: Jasper, Hematit (Fe2O3)
  • Coklat : Garnet, Limonite (Fe2O3)
  • Abu-abu : Galena (PbS)
  • Hitam : Biotit, grafit, augit

b. Cerat

Cerat adalah warna mineral dalam bentuk hancuran (serbuk). Hal ini dapat dapat diperoleh apabila mineral digoreskan pada bagian kasar suatu keping porselin atau membubuk suatu mineral kemudian dilihat warna dari bubukan tersebut. Cerat dapat sama dengan warna asli mineral, dapat pula berbeda. Warna cerat untuk mineral tertentu umumnya tetap walaupun warna mineralnya berubah-ubah. Contohnya :
  • Pirit memiliki warna keemasan namun jika digoreskan pada plat porselin akan meninggalkan jejak berwarna hitam.
  • Hematit memiliki warna merah namun bila digoreskan pada plat porselin akan meninggalkan jejak berwarna merah kecoklatan.
  • Augite  memiliki cerat abu-abu kehijauan
  • Biotite memiliki cerat tidak berwarna
  • Orthoklase  memiliki cerat putih

c. Kilap (luster)

Merupakan kenampakan atau cahaya yang dipantulkan oleh permukaan mineral saat terkena cahaya (Sapiie, 2006). Kilap ini secara garis besar dapat dibedakan menjadi  jenis:

Kilap Logam (metallic luster), bila mineral tersebut mempunyai kilap atau kilapan seperti logam. Contoh mineral yang mempunyai kilap logam:
  • Galena
  • Pirit
  • Magnetit
  • Kalkopirit
  • Grafit
  • Hematit

Kilap Bukan Logam (non metallic luster), terbagi atas :
  • Kilap Intan (adamantin luster), cemerlang seperti intan.
  • Kilap kaca (viteorus luster), misalnya pada kuarsa dan kalsit.
  • Kilap Sutera (silky luster), kilap yang menyeruai sutera pada umumnya terdapat pada mineral yang mempunyai struktur serat, misalnya pada asbes, alkanolit, dan gipsum.
  • Kilap Damar (resinous luster), memberi kesan seperti damar misalnya pada spharelite.
  • Kilap mutiara (pearly luster), kilap seperti lemak atau sabun, misalnya pada serpentin, oval dan nepelin.
  • Kilap tanah, kilap suram seperti tanah lempung misalnya pada kaolin, bauksit dan limonit.
Kilap mineral sangat penting untuk diketahui, karena sifat fisiknya ini dapat dipakai dalam menentukan mineral secara megaskopis. Untuk itu perlu dibiasakan membedakan kilap mineral satu dengan yang lainnya, walaupun kadang-kadang akan dijumpai kesulitan karena batas kilap yang satu dengan yang lainnya tidak begitu tegas (Danisworo 1994).

d. Bentuk Kristal

Bentuk kristal dapat dikatakan kristalin, bila mineral tersebut mempunyai bidang kristalin yang jelas. Bidang kristal dikatakan amorf, bila bila tidak memiliki batas-batas kristal yang jelas. Mineral dialam jarang di jumpai dalam bentuk amorf yang ideal, karena kondisi pertumbuhan yang biasanya terganggu oleh proses-proses yang lain. Ada 32 macam gelas kristal yang dipersatukan dalam 6 sistem kristal, yaitu:
  • Isometrik ketiga poros sama panjang dan berpotongan tegak lurus satu sama lain (contoh : intan, pirit)
  • Tetragonal (berbintang empat) ketiga poros tegak lurus satu sama lain, dua poros sama panjang sedangkan poros ketiga berbeda (contoh : kalkopirit, rutil, zirkon).
  • Heksagonal (berbintang enam) hablur ini mempunyai empat poros, tiga poros sama panjang dan terletak dalam satu bidang, bersilangdengan sudut 120 derajat (60 derajat), tetapi poros ke-empat tegak lurus atas bidang itu dan panjangnya berbeda (contoh : apatit, beril, korundum).
  • Ortorombik (irisan wajik) ketiga poros tidak sama panjang dua poros berpotongan siku-siku dan poros ketiga memotong miring bidang kedua poros tadi (berit, belerang, topaz)
  • Monoklin (miring sebelah) ketiga poros tidak sama panjang, dua dari porosnya berpotongan sorong & poros ketiga tegak lurus atas kedua poros tadi (contoh : gipsum, muskovit, augit)
  • Triklin (miring, ketiga arah) ketiga poros tidak sama panjang dan berpotongan serong satu sama lain (albit, anortit, distin).

e. Belahan

Balahan merupakan kecenderungan mineral untuk membelah diri pada satu atau lebih arah tertentu. Belahan tersiri dari :
  • Belahan satu arah, contoh   : muskovit
  • Belahan dua arah, contoh   : feldspar
  • Belahan tiga arah, contoh   : halit dan kalsit

f. Pecahan

Pecahan adalah kecenderungan mineral untuk terpisah-pisah dalam arah yang tidak teratur apabila mineral dikenai gaya. Perbedaan pecahan dengan belahan dapat dilihat dari sifat permukaan mineral apabila memantulkan sinar. Permukaan bidang belah akan nampak halus dan dapat memantulkan sinar seperti cermin datar, sedang bidang pecahan memantulkan sinar ke segala arah dengan tidak teratur (Danisworo, 1994).Pecahan mineral ada beberapa macam, yaitu:
  • Conchoidal yaitu apabila memperhatikan gelombang yang melengkung di permukaan pecahan, seperti kenampakan kulit kerang atau pecahan botol. Contoh : kuarsa.
  • Fibrous yaitu apabila menunjukkan gejala seperti serat, misalnya asbestos, augit, hipersten
  • Even yaitu apabila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan halus, contoh pada kelompok mineral lempung. Contoh Limonit.
  • Uneven yaitu apabila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan yang kasar, contoh: magnetit, hematit, kalkopirit, garnet.
  • Hackly yaitu apabila pecahan tersebut menunjukkan permukaan kasar tidak teratur dan runcing-runcing. Contoh pada natif elemen emas dan perak.

g. Kekerasan

Adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan nisbi suatu mineral dapat membandingkan suatu mineral terentu yang dipakai sebagai kekerasan yang standar. Mineral yang mempunyai kekerasan yang lebih kecil akan mempunyai bekas dan badan mineral tersebut. Standar kekerasan yang biasa dipakai adalah skala kekerasan yang dibuat oleh Friedrich Mohs dari Jerman dan dikenal sebagai skala Mohs. Skala Mohs mempunyai 10 skala, dimulai dari skala 1 untuk mineral terlunak sampai skala 10 untuk mineral terkeras .

Tabel Skala Kekerasan Relatif Mineral (Mohs)


Sebagai perbandingan dari skala tersebut di atas maka di bawah ini diberikan kekerasan dari alat penguji standar :

Tabel penguji


h. Berat Jenis

Setiap mineral mempunyai berat jenis tertentu. Besarnya ditentukan oleh unsur-unsur pembentuknya serta kepadatan dari ikatan unsur-unsur tersebut dalam susunan kristalnya.

i. Tenacity

Adalah sifat mineral apabila kita berusaha untuk mematahkan, memotong, menghancurkan, membengkokkan atau mengiris. Yang termasuk sifat ini adalah :
  • Rapuh (brittle), mudah hancur tapi bias dipotong-potong, contoh : kuarsa, orthoklas, kalsit, pirit.
  • Mudah ditempa (malleable), dapat ditempa menjadi lapisan tipis, seperti emas, tembaga.
  • Dapat diiris (sectile), dapat diiris dengan pisau, hasil irisan rapuh, contoh : gipsum.
  • Flexible, mineral berupa lapisan tipis, dapat dibengkokkan tanpa patah dan sesudah bengkok tidak dapat kembali seperti semula. Contoh : talk, selenit.
  • Elastic, mineral berupa lapisan tipis dapat dibengkokkan tanpa menjadi patah dan dapat kembali seperti semula bila kita hentikan tekanannya, contoh: muskovit.

j. Diaphaneity

  • Transparent, bila mineral ditempelkan hingga menutupi objek, dan ternyata objek tersebut terlihat jelas.
  • Translucent, bila mineral ditempelkan hingga menutupi objek, dan ternyata objek itu masih kelihatan samara-samar / tidak begitu jelas.
  • Opaque, bila mineral ditempelkan hingga menutupi objek, dan ternyata objek itu tidak kelihatan sama sekali.

k. Special Properties

  • Rasa (Taste)
  • Feel 
  • Bau
  • Kelistrikan
  • Kemagnetan
  • Daya hantar panas
  • Keradioaktifan
  • Fosforisensi
  • Fluorisensi

2. Sifat Kimiawi Mineral

Berdasarkan senyawa kimiawinya, mineral dapat dikelompokkan menjadi mineral silikat dan mineral non-silikat.

a. Mineral Silikat

Hampir 90 % mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok ini, yang merupakan persenyawaan antara silikon dan oksigen dengan beberapa unsur metal. Karena jumlahnya yang besar, maka hampir 90 % dari berat kerak-bumi terdiri dari mineral silikat, dan hampir 100 % dari mantel bumi (sampai kedalaman 2900 km dari kerak bumi). Silikat merupakan bagian utama yang membentuk batuan baik itu sedimen, batuan beku maupun batuan malihan. Silikat pembentuk batuan yang umum adalah dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok ferromagnesium dan non-ferromagnesium. Berikut adalah Mineral Silikat:
  • Kuarsa : ( SiO2) 
  • Feldspar Alkali : ( KalSi3O8) 
  • Feldspar Plagioklas: (Ca,Na)Al Si3O8) 
  • Mika Muskovit : (K2Al4(Si6Al2O20)(OH,F)2
  • Mika Biotit : K2(Mg,Fe)6Si3O10(OH)2
  • Amfibol : (Na,Ca)2(Mg,Fe,Al)3(Si,Al)8O22(OH)
  • Piroksen : (Mg,Fe,Ca,Na)(Mg,Fe,Al)Si2O6
  • Olivin : (Mg,Fe)2SiO4 

Nomor 1 sampai 4 adalah mineral non-ferromagnesium dan 5 sampai 8 adalah mineral ferromagnesium.

Kelompok Mineral Silikat


b. Mineral Non-Silikat

Tabel 2.5 Kelompok Mineral Non-Silikat


Saya bukan master ataupun ahli. Hanya seorang mahasiswa yang ingin sharing pengetahuan mengenai Migas, Geothermal dan Pengetahuan Umum lainnya.

Share this

Subscribe Yuk !!!

Postingan Terkait

Previous
Next Post »

   Berkomentarlah dengan Baik dan Sopan.