Lumpur Pemboran (Mud)

Published by Priant Taruh on June 21, 2017

Lumpur Pemboran merupakan fluida yang digunakan dalam suatu operasi pemboran dimana fluida tersebut terdiri dari beberapa jenis campuran zat kimia yang memiliki fungsi tertentu.

Baca juga: Sistem Sirkulasi (Circulating System)

Fungsi Lumpur Pemboran

Lumpur pemboran memiliki fungsi antara lain:

1. Mengangkat Cutting / serbuk bor
2. Melumasi drill string
3. Menjaga tekanan formasi
4. Sebagai mud cake
5. Sebagai media logging
6. Sebagai media pada saat terjadi los circulation
7. Mencegah timbulnya korosi
8. Mencegah terjadinya kick
8. Sebagai bouyancy factor

Jenis Lumpur Pemboran

Klasifikasi lumpur bor terutama berdasarkan fasa fluidanya yaitu air (water base), minyak (oil base) atau gas.

1. Fresh Water Muds

Fresh Water Muds adalah lumpur yang fasa cairnya adalah air tawar dengan (kalau ada) kadar garam yang kecil (kurang dari 10000 ppm = 1% berat garam).

2. Salt Water Muds


Lumpur ini digunakan terutama untuk membor garam massive (salt dome) atau salt stringer (lapisan formasi garam) dan kadang-kadang bila ada aliran air garam yang terbor. Filtrate lossnya besar dan mud-cakenya tebal bila tidak ditambah organic colloid, pH lumpur dibawah 8.

Jika salt mudnya mempunyai pH yang lebih tinggi, fermentasi terhalang oleh basa. Suspensi ini bisa diperbaiki dengan penggunaan attapulgite sebagai pengganti bentonite.

3. Oil in Water Emultion Muds (Emulsion Mud)

Pada lumpur ini minyak merupakan fasa tersebar (emulsi) dan air sebagai fasa kontinyu. Jika pembuatannya baik, filtratnya hanya air. Sebagai dasar dapat digunakan baik fresh maupun salt water mud. Sifat-sifat fisik yang dipengaruhi emulsifikasi hanyalah berat lumpur, volume filtrat, tebal mud cake dan pelumasan. Segera setelah emulsifikasi, filtrate loss berkurang.

Keuntungannya adalah bit yang lebih tahan lama, penetration rate naik, pengurangan korosi pada drill string, perbaikan pada sifat-sifat lumpur (viskositas dan tekanan pompa boleh/dapat dikurangi, water loss turun, mud cake turun dan tipis) dan mengurangi balling (terlapisnya alat oleh padatan lumpur) pada drill string. Viskositas dan gel lebih mudah dikontrol bila emulsifiernya juga bertindak sebagai thinner.

4. Oil Base dan Oil Base Emulsion Mud

Lumpur ini mengandung minyak sebagai fasa kontinyunya. Komposisinya diatur agar kadar airnya rendah (3 - 5% volume). Relatif lumpur ini tidak sensitif terhadap kontaminan. Tetapi airnya adalah kontaminan karena memberi efek negatif bagi kestabilan lumpur ini.

Untuk mengontrol viskositas, menaikkan gel strength, mengurangi efek kontaminasi air dan mengurangi filtrate loss, perlu ditambahkan zat-zat kimia. Manfaat oil base mud didasarkan pada kenyataan bahwa filtratnya adalah minyak karena itu tidak akan menghidratkan shale atau clay yang sensitif baik terhadap formasi biasa maupun formasi produktif.

Kegunaan terbesar adalah pada completion dan workover sumur. Kegunaan lain adalah untuk melepaskan drill pipe yang terjepit, mempermudah pemasangan casing dan liner.

5. Gaseous Drilling Fluid

Digunakan untuk daerah-daerah dengan formasi keras dan kering. Dengan gas atau udara dipompakan pada annulus, salurannya tidak boleh bocor. Keuntungan cara ini adalah penetration rate lebih besar, tetapi adanya formasi air dapat menyebabkan bit balling (bit dilapisi cutting/padatan-padatan) yang merugikan.

Juga tekanan formasi yang besar tidak membenarkan digunakannya cara ini. Penggunaan natural gas membutuhkan pengawasan yang ketat pada bahaya api. Lumpur ini juga baik untuk completion pada zone-zone dengan tekanan rendah.

Suatu cara pertengahan antara lumpur cair dengan gas adalah aerated mud drilling dimana sejumlah besar udara (lebih dari 95%) ditekan pada sirkulasi lumpur untuk memperendah tekanan hidrostatik (untuk lost circulation zone), mempercepat pemboran dan mengurangi biaya pemboran.

Sifat Fisik Lumpur Pemboran

Densitas

Densitas merupakan perbandingan antara massa dengan volume (p = m/v), densitas lumpur sangat penting untuk diperhatikan karena lumpur memiliki peranan penting dalam menjaga tekanan, hal tersebut dapat dilihat pada perhitungan berikut ini:

PH = 0.052 x MW x TVD

Ket:

PH : Tekanan Hidrostatik
0.052 : Konversi
MW : Berat Lumpur
TVD : Kedalaman berdasarkan volume lumpur.

Viskositas

Viskositas adalah keengganan cairan untuk mengalir, semakin tinggi viskositas maka lumpur akan semakin kental. Dengan viskositas kita dapat mengetahui kekentalan dari lumpur tersebut, apakah encer atau kental.

Gel strength

Merupakan kemampuan lumpur menahan cutting pada saat sirkulasi berhenti yang disebabkan oleh faktor tertentu.

Yield Point

Hampir sama dengan gel strenght, hanya saja fungsinya menahan cutting pada saat dinamis yaitu pada saat sirkulasi lumpur sedang berlangsung.

Saya bukan master ataupun ahli. Hanya seorang mahasiswa yang ingin sharing pengetahuan mengenai Migas, Geothermal dan Pengetahuan Umum lainnya.

Share this

Subscribe Yuk !!!

Postingan Terkait

Previous
Next Post »

   Support blog ini dengan cara Berkomentar yang baik dan sopan.